Sabtu, 10 Agustus 2019

Pasar Kecil di Tepi Jalan Raya Bangka

Paling senang belanja di Pasar Tradisional seperti Pasar Kecil di tepi Jalan Bangka Raya ini... 

Tadi beli tempe ke pedagang nenek-nenek tua di jalan masuk pasar, satu papan di atas 9.500 katanya lagi mahal. Ya sudah, ga pa-pa saya ambil satu ditambah bayam 2 ikat 5.000, seluruhnya jadi 14.500,- Pas bayar 15ribu saya bilang makasih ya Bu. Eh ditambahin tomat ijonya 1 bungkus. Saya bilang dong: Bu, saya cuman beli tempe sama bayam, ga pakai tomat ijo. Eh nenek pedagangnya bilang: ga pa-pa ambil aja, ibu bayarnya lebih kok. Dalam hati: Lah lebihnya cuman 500 perak doang, digantinya sama 1 bungkus tomat ijo, ga sebandinglah harganya Neeekk...😭😭 

Akhirnya saya tambahin 2ribu lagi. Kata si nenek pedagang itu 15ribu dah lebih neng. Ga pa-pa bu, cuman 2ribu doang kok. Eh saya malah didoain panjang banget, mana baik-baik semua lagi padahal nambahinnya cuman 2ribu, jadi pengen nangis... 😭😭


Di atas tempe, bayam dan tomat ijonya


Saya belanjanya bertiga ditemanin oleh duo nak bujang kesayangan Doel Bersaudara, Doel Kancut dan Doel Peang.

Kamis, 08 Agustus 2019

Grand Ussu Puncak Bogor


Liburan kesini dadakan pas lebaran Idul Fitri bulan Juni kemarin yang tidak direncanakan sama sekali. Sebenarnya kita jauh-jauh hari ingin libur ke daerah Pantai di Anyer sana, tapi masih trauma baca berita di media dimana kemungkinan masih ada gempa susulan yang berpotensi tsunami jadi kuatir dan ragu-ragu juga liburan ke pantai Anyer. Akhirnya dengan perasaan mood ga mood, bagaimana ya, kurang bersemangat aja, sebagai gantinya dicarilah alternatif beberapa hotel sekitaran Puncak dan ketika telpon ke sini ada kamar kosong maka langsung bayar dp hari itu juga dan esoknya langsung menginap. Pilihan hiburan buat anak-anaknya ada satu kolam renang khusus buat anak-anak, kalau untuk dewasa sepertinya terlalu dangkal dan terlalu sempit kali ya. Walaupun lokasi hotel ini masih dibawah tapi airnya masih tetap dingin bagi Doel Bersaudara.., sehingga baru nyebur 1 jam dah pada menggigil kedinginan mereka. 

Beruntungnya untuk room kami dapat di Cattleya 1 Lt.2 ga pakai naik tangga, bersih, semua berfungsi dengan baik dan terang, serta balkon yg menghadap luas ke pepohonan. Disamping itu karena lokasi hotel Grand Ussu ini di tepi Jalan Raya Puncak persis dan jika tiba-tiba merasa lapar bawa kendaraan cukup sampai parkiran pintu masuk saja setelahnya kami bebas berjalan kaki keluar hotel mencari baik di pagi hari, siang hari, sore hari ataupun malam hari berkuliner makanan berat ataupun cemilan ringan. 

Berikut seperti biasa hasil jepret-jepret foto selama menginap 3D2N. Cekidootttt......!!

Ini foto di area restoran


Saat sarapan pagi

Tangga samping dari lobby menuju restoran

Area menuju kamar di lantai 2


Kamar saat menginap 

Area smooking room di Lobby


Area kolam renang khusus anak-anak dangkal

Di depan lobby

Dalam kamar

Di lobby


Kamar mandi


Televisi, Lemari pakaian dan  dibawah kaca didalamnya ada kulkas. Sempat nyari-nyari awalnya kulkas ada dimana, eh ternyata di dalam lemari


Tangga untuk naik seluncuran kolam renang yang paling tinggi


Penampakan Kamar dari depan

Selasa, 25 Juni 2019

Acara Pelepasan Siswa kelas 6 



Menulis dengan kata-kata yang terlintas diiringi alunan musik, yuhuuu....

Acara Pelepasan Siswa kelas 6 di sekolahan abang Doel bersaudara dilakukan hari Kamis kemarin. Umumnya sama dengan acara Pelepasan Siswa Kelas 6 pada umumnya, dimana jalannya acara dimulai dengan Pembacaan Doa, Sambutan kepala Sekolah diselingi anak-anak Paduan Suara yang tampil, Sambutan Ketua Komite diselingi Pentas Seni, Sambutan Perwakilan Walimurid diselingi dengan Pentas Seni. Pelepasan Siswa secara Simbolis diwakilkan satu orang siswa dan satu orang Siswi dan kemudian dilanjutkan lagi dengan pentas seni. Untuk Pensi Pentas Seni dimeriahkan oleh perwakilan anak-anak dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. 

Secara umum acara Pelepasan Siswa ini berjalan lancar sesuai dengan waktu yang telah disusun, yaitu dimulai dari Jam 09.00 pagi dan selesai jam 12.00. Yang berbeda dari acara perpisahan tahun ini adalah orangtua memakai baju bernuansa kebaya, bagi yang punya ya, yang ga punya bisa pakai baju yg bagus lainnya. Ditambah Panitia Pelaksana memanggil fotografer profesional untuk sesi foto bersama ibu dan anak memakai baju wisuda. Biayanya satu kali shoot atau satu kali foto adalah 20ribu dimana ini sudah termasuk mendapatkan hasil cetak foto ukuran 10R. Oh iya, ini langsung dikasih harga murah ya. Sempat nawar juga awalnya 17-18rb per shootnya dan kata fotogragernya jangan ditawar lagi itu udah benar-benar dikasih harga murah. Benar juga ketika kami cek ke fotografer sebelah harganya mihil banget ternyata, satu kali shoot kena 45ribu di toko sebelah. Alhasil akhirnya pilih Bapak fotograger yang dah kasih harga murah aja. Dibawah saya kasih ya kartu nama bapak fotogragernya kali aja ada yang butuh untuk acara-acara atau hajatan khusus. Untuk frame bingkai foto tidak dapat ya, kalau mau frame bingkai fotonya sekalian untuk ukuran 10R fotografer menyediakan dengan harga 15rb per satu bingkainya satu paket dengan fotonya. Jika beli eceran satuan harganya 20rb. Hanya saja dipikir-pikir panitia bakalan kerepotan dan keberatan bawa-bawain bingkai foto ini untuk seluruh siswa yang ada 2 kelas, karena satu bingkai saja sudah terasa berat dipegang tangan, jadi ga usahlah pakai frame bingkai, cukup hasil cetak foto aja.

Seperti biasa berikut penampakan-penampakannya dari sisa galery kamera hp karena banyak dihapus-hapusin, taraaa...













.



Sabtu, 22 Juni 2019

Poliklinik Mandiri RSUD Pasar Minggu


Menulis di waktu senggang, di kala saya merasa sendirian di tengah keramaian, hanya mencoba membuat hidup ini selalu lebih hidup.

Jumat kemarin berdua dengan abang Doel bersaudara berobat ke sini sebagai pasien umum, sebelumnya sih berobatnya ke RSUD Mampang Prapatan. Hanya saja di RSUD Mampang Prapatan poliklinik mata ga ada, jadi disarankan ke RSUD Tebet, RSUD Budi Asih dan RSUD Pasar Minggu. Nah saya kan biasa ngangkot naik bus umum atau si tije busway ya, pas dilihat-lihat rute yang paling dekat dari akses halte busway Mampang ya RSUD Pasar Minggu. Dari halte sini ambil ke arah Ragunan dan turun di halte Busway Pertanian. Cepat ya naik busway. Menyeberang jalan raya dan jalanlah kucluk-kucluk menuju RSUD. Pagi itu jarum jam menunjukkan angka 09.00. Matahari bersinar dengan cerah, cahayanya di pagi itu membuat hidup terasa lebih bersemangat, walaupun minusnya di sebelah kanan, di jalanan raya, asap knalpot kendaraan pasti juga menumpuk di udara, hahaa, tapi abaikan sajalah. Saat ini terlalu indah untuk menikmati cahaya matahari.

Sekitar 10 menit berjalan sampailah di gerbang RSUD Pasar Minggu. Yang pertama keliatan tulisan IGD, bertanya ke Security kalau daftar pasien umum dimana ya?? Secara saya kan baru pertama kali ke sini wajar dong masih awam. Diarahkan jalan lurus ke arah lobby utama, nanti daftar di sana. Sampai di lobby bertanya lagi dengan bagian Front Office pendaftaran pasien umum dimana, ehh adanya di belokan sebelah kanannya FO persis dan ternyata tanggal 17 Juni kemarin baru saja dibuka Poliklinik Mandiri untuk pasien umum. Ambil nomor antri dengan memencet tombol biru kecil dan tunggu dipanggil CS. Ada 3 nomor di depan saat itu, ga berapa lama menunggu dipanggillah nomor antrian saya, ditanya ke Poli apa dan kasih KTP untuk isi data, terakhir ditanya nama ibu dan pendidikan terakhir. Kelar langsung bayar menuju kasir di pojokan kiri atau kasir di lantai atas Poliklinik Mandiri, biayanya 55ribu sudah termasuk Pendaftaran dan Pemeriksaan.

Melangkah menuju Polimata, melewati bagian yg ada tulisan "Nurse Station", kita akan dipanggil dan dicek tensi darah melalui alat yg tangannya tinggal dimasukin begitu, kudet ya saya hehehe.., maklumlah biasa manual ditensi. Terus ditanya keluhannya apa, kelar diperiksa nurse, duduk antri menunggu dipanggil di depan ruang Optometri. Di ruang optometri, mata kita akan diperiksa 2 kali di kursi yang berbeda, yang pertama dengan alat yang ditembakan angin ke masing-masing mata sebelah kiri dan kanan. Saya mah jadi kagetan dan matanya berkedip saat anginnya menembak mata, dan di kursi yang ke dua disuruh baca jarak jauh dan juga diperiksa sesuai keluhan saya ga bisa baca jarak dekat pakai kaca minus ini, buram berbayang begitulah jadi pusing kepala. Kelar dari ruang Optometri diarahkan kembali menuju ruang polimata yang diujung seberangnya. Kembali antri menunggu dipanggil dokter mata, yang saat itu tidak mengantri. Setelah nama dipanggil masuk ke ruang dokter mata untuk kembali diperiksa dan dokter menjelaskan mengenai mata dan kacamata yang nanti akan dipakai untuk kacamata model plus minus saya ini. Model lama ada bentuk sabit kecilnya, model orangtua lah istilahnya. Sedang yang terbaru model anak muda namanya kacamata progressive dimana plus minusnya tidak terlihat. Setelah jelas bertanya-tanya, dikasih resep kacamata oleh dokternya untuk dibeli di toko kacamata. Kelar sudah. Oh iya sebelum pulang mampir ke kasir lagi bayar sepertinya untuk 2 kali pemeriksaan di ruang optometri tadi sejumlah 65ribu. Jadi jumlah keseluruhannya 120ribu, yaitu 55 ribu ditambah 65ribu.

Alhamdulillah selesai lebih cepat dibanding perkiraan saya sebelumnya. Pendapat dan kesan saya pribadi untuk pertama kali ke sini, senang ya dengan adanya Poliklinik Mandiri. Biayanya terjangkau. Apalagi kembali balik menuju rumah dari rumah sakit dengan menumpang si tije busway, saya masih bisa ke sekolahan abang Doel bersaudara sebelum jam 12.00 siang mengambil nilai hasil USBM-nya.

Oh iya..., menegaskan kembali saya berobat sebagai pasien umum bukannya karena tidak punya BPJS. Kami sekeluarga ada punya BPJS Mandiri untuk kelas 1 yang dibuatkan oleh perusahaan tempat ayah Doel Bersaudara bekerja dari awal-awal diwajibkan membuat BPJS kesehatan oleh pemerintah Pak Jokowi untuk seluruh karyawan perusahaan. Hanya saja karena anak-anak saya ada 3 masih kicik-kicik, mereka sekolah semua ditambah semua pekerjaan rumah tangga mencuci memasak menggosok dan bersih-bersih rumah serta mengasuh anak-anak dan juga ojek antar jemput sekolah anak-anak, saya semua yang mengerjakannya, jadi waktu dan tenaga saya sudah benar-benar terkuras duluan untuk sehari-harinya, jadi ketika harus ke faskes tingkat 1, jam 06.00 pagi, hanya untuk mengambil nomor antrian yang lebih muda kemudian menunggu dokternya datang atau balik ke rumah dan setelah itu balik lagi ke faskes, yang ada bertambah-tambah lelah saya jika semua dikerjakan sendirian. Kecuali jika anak-anak dan pekerjaan rumah tangga ada asisten atau saudara yang bantu-bantu jaga mungkin lebih enjoy kali ya.

Seperti biasa berikut penampakan-penampakan hasil-hasil jepretan kamera hp.